Jika kau telah lelah untuk mengerti aku,
Jika kau telah lelah mencoba memahamiku,
Jika kau telah lelah bersamaku,
………………
Sedangkan kau telah berusaha dengan keras
………………
Maka sebaiknya kau lepaskan aku,
Karna aku hanya ingin menjadi cinta dihatimu
Bukan duri yang menyakitimu.
Jika kau telah lelah….
•Juni 22, 2011 • Tinggalkan sebuah KomentarWaiting…
•Juni 22, 2011 • Tinggalkan sebuah KomentarSILUET
•Juni 22, 2011 • Tinggalkan sebuah KomentarEntah sudah berapa lama aku tidak menulis
Membuat sebuah catatan tertinggal untuk dapat kubaca dan kukenang
Entah berapa lama aku kehilangan rasa itu
Rasa lebih peka untuk dapat ku merasa dan dirasa
Rasa lebih peka untuk dapat melihat lebih dekat sekitar
Rasa lebih peka untuk bisa kumengerti dan dimengerti
Apa karna aku seperti siluet?
Yang seperti bayangan hitam yang terkadang tak peduli dengan kanvas?
Atau apa karena aku terlalu tersamarkan?
Sehingga tak cukup sekedar dilihat untuk lebih mengenal aku?
Ataukah memang aku yang terlalu sulit dipahami dan dimengerti?
Entahlah….
Tapi aku masih seorang penyuka hujan, pencari pelangi, seorang pemimpi
Dan hingga hari ini aku masih punya cinta.
Aku dan Hati ku
•Desember 14, 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarAku dengan hati ku
Yang tak lagi ku tau apa kabarnya kini.
Apakah kini Jingga? Biru? Ungu? Atau Kelabu?
Tapi yang ku tau Ia masih ada disana…menyepi.
Menangisi satu ruang hati yang cuma terisi satu pelangi
Dan belum terganti
Meski satu lagi yang ku tau
Semakin ia mencintai, semakin pula tersakiti
Karena pelangi tak menyapanya lagi.
Biarkan…
•November 11, 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarTak perlu ada kata.
Malam ini biarkan begini.
Cukup pekat dan hening saja yg menemani
Karna tak ada lagi bintang, bulan maupun binatang malam.
Biarkan saja begini
Sunyi sambil meresapi rasa, meresapi asa yg kini tak lagi tersisa.
Entah apa kabarnya kini kau hati? tapi yakin bahwa semua akan kembali baik-baik saja.
Untuk kaca-kaca pecah yang terserak malam, biarkan saja.
Biarkan waktu yang akan mengobatinya.
Untittled
•November 11, 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarAku berdiri disisimu,
berada disamping mu begitu pasti.
Yang tak kumengerti masih saja kau tak mengerti.
Apakah aku tak terlihat oleh mu?
Apa karna dihati itu tak pernah tergambar sedikitpun tentang aku?
Padahal hati ini nyata adanya dan bisa kau rasa.
Namun aku akan terus menyanyikan lagu cinta,walau tau takkan terdengar.
Aku akan terus menari menemani hingga wajahmu takkan murung lagi.
Aku memang bodoh, mencinta seseorang yang tak memberikan rasa cintanya untukku.
Tapi kamu juga bodoh, Karna tak sadar ada cinta yang tulus disini.
Apa mungkin karna kita sama-sama bodoh sehingga kita masih terperangkap oleh hati masing-masing??
Matahari Pagi
•Oktober 19, 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarMatahari
Ia menghangatkan aku dengan sinarnya.
Yg memberikan nyaman dengan hadirnya.
Dan memberikan rasa didalam relung hati yang aku sendiri sulit untuk mengerti.
Aku masih ingat warna itu.
Hitam, Putih, Abu-abu, dan Merah.
Dan aku masih ingat sifat pemalunya itu.
Yang selalu bersembunyi dibalik tingginya sosoknya itu, yang sesekali menampakkan wajahnya yg malu-malu namun penuh rasa ingin tahu.
Tapi kini ia bersembunyi dibalik putihnya awan dan tak pernah kulihat lagi.
Aku rindu pada matahari yg pernah kujumpai pada pagi-pagi yang lalu
dan rasa itu masih ada hingga kini.
Jangan tanya aku kenapa? karna aku juga tak tau dengan hatiku.
Tapi yang pasti jika aku ditanya apa yang sedang kulakukan?
maka ku akan menjawab “aku masih mencari dan menunggu matahari itu hingga ia datang kepadaku”.
Tindakan Kita Hanya Sebatas Melihat Dunia
•April 1, 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarBila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdil. Namun bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.
Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tidak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri.
Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.
Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, didunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.
Point Of View
•Maret 30, 2010 • Tinggalkan sebuah KomentarBeberapa tahun yang silam,seorang pemuda terpelajar dari semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.
Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si Pemuda.
“Oh… Saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua” jawab ibu itu.
” Wouw….. hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. Pemuda itu merenung.
Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.
” Kalau saya tidak salah ,anak yang diSingapore tadi , putra yang kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak-adik adik nya??”
Oh ya tentu ” si Ibu bercerita: “Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang ,
yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta ,
yang keenam menjadi kepala cabang bank diPurwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.”"
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ” terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??”
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ” anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar “
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani “??
Dengan tersenyum Ibu itu menjawab, ” Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”
![!cid_8.2294967175@web8316.mail.in.yahoo[1]](http://tunjuk1bintang.files.wordpress.com/2010/03/cid_8-2294967175web8316-mail-in-yahoo1.jpg?w=497&h=365)
Today’s lesson :
Everybody in the world is a important person.
Open your eyes….
your heart….
your mind….
your point of view….
because we can’t make summary before read “the book ” completely.
The wise person says…
The more important thing is not WHO YOU ARE
But
WHAT YOU HAVE BEEN DOING
Artikel ditulis oleh: Muhammad Vheztaqwil
Jejak Kaki Diriku dan Tuhanku
•Maret 30, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar
Suatu malam seorang pemuda bermimpi. Dia bermimpi berjalan bersama Tuhan di sepanjang pantai. Ketika memandang ke langit, pemuda tersebut melihat tampilan perjalanan hidupnya. Setiap tampilan ia melihat ada dua pasang jejak kaki di pasir: satu adalah jejaknya, dan jejak lainnya adalah jejak Tuhan.Ketika saat-saat terakhir kehidupannya tampil di hadapannya, dia melihat kembali jejak kaki yang ada di pasir. Dia menyadari bahwa beberapa bagiaan waktu dalam hidupnya hanya terdapat satu pasang jejak kaki. Dia juga menyadari bahwa hal itu terjadi ketika saat-saat paling buruk dan bermasalah dalam hidupnya.Hal ini menggangu pikirannya dan ia bertanya kepada Tuhan tentang hal tersebut:
“Tuhan, Engkau mengatakan bahwa ketika aku memutuskan untuk mengikutimu, Kau selalu berjalan bersamaku sepanjang waktu. Tetapi aku menyadari bahwa selama masa dimana hidupku penuh dengan masalah dan penderitaan, di sana hanya terdapat satu jejak kaki. Aku tidak mengerti kenapa ketika saat-saat dimana aku membutuhkan Mu Engkau malah meninggalkanku.”
Tuhan menjawab: “Anakku yang aku sayangi, Aku mencintaimu dan Aku tidak pernah meninggalkanmu. Selama masa ujian dan penderitaan, ketika kau hanya melihat sepasang jejak kaki, saat itu Aku memikulmu.”
~ oleh Dimas di/pada 28 Maret, 2007.
Sumber: www.surrender2god.wordpress.com
Sebuah repost lama dari My 1st Blog: www.aizusuru.wordpress.com







Komentar Terakhir